Girimu.com – Sesi diskusi dalam kegiatan Upgrading Musyrif-Musyrifah Spemdalas Boarding School (SBS) dan Asrama Al-Mizan Smamio, Kamis (9/7/2026) berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para musyrif dan musyrifah memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai ajang berbagi pengalaman sekaligus “curhat” seputar berbagai tantangan yang mereka hadapi saat mendampingi santri di asrama.
Berbagai persoalan nyata di lapangan disampaikan kepada Ketua LP2 PDM Gresik, Ustadz Raden Jamal, untuk mendapatkan pandangan dan solusi. Salah satunya disampaikan oleh Ustadz Ahmad Cholid Yazid, musyrif Asrama Al-Mizan Smamio. Ia mengangkat kasus seorang santri yang kedapatan merokok. Setelah dilakukan pendekatan secara persuasif dan digali penyebabnya, santri tersebut mengaku, bahwa orang tuanya justru membolehkan dirinya merokok.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi hal itu, Ustadz Raden Jamal menjelaskan, bahwa musyrif tetap harus berpegang pada aturan asrama. Pendekatan humanis tetap diperlukan untuk memahami latar belakang santri, namun komunikasi dengan orang tua juga harus dibangun agar terdapat kesamaan visi dalam pendidikan karakter.
Pertanyaan berikutnya datang dari Ustadz Muhammad Fadlum, musyrif Spemdalas Boarding School. Ia mengungkapkan kebingungannya menghadapi santri yang tidak pernah melanggar aturan, tetapi mudah merasa bosan meskipun telah diberikan berbagai aktivitas, termasuk olah raga.
Menurut Ustadz Raden Jamal, setiap santri memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, musyrif perlu mengenali potensi, minat, dan kondisi psikologis masing-masing santri agar pembinaan yang dilakukan lebih tepat sasaran.
Diskusi semakin menarik ketika Ustadz Ahmad Cholid Yazid kembali bertanya mengenai pola kepemimpinan dalam satu tim musyrif. Ia menanyakan apakah dalam satu asrama sebaiknya kedua musyrif sama-sama bersikap keras, sama-sama lembut, atau justru saling melengkapi.
Menjawab pertanyaan tersebut, Ustadz Raden Jamal menegaskan, bahwa yang terpenting bukanlah memainkan peran keras atau lembut, melainkan memiliki visi yang sama, saling mendukung, dan konsisten dalam menegakkan aturan. Perbedaan karakter diperbolehkan selama tidak menimbulkan standar yang berbeda dalam pembinaan santri.
Menutup sesi diskusi, Ustadz Raden Jamal memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar senantiasa menjaga keikhlasan dalam menjalankan amanah sebagai musyrif.
“Kita ikhlaskan saja niat kita. Kalau kita sudah maksimal, nanti Allah pasti menilai,” pesannya. (*)
Post Views: 20







