GIRIMU.COM — Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa begitu kental di lingkungan SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik saat tradisi halal bihalal digelar usai libur Hari Raya Idulfitri 1447 H. Kegiatan yang diikuti siswa kelas 7 dan 8 ini menjadi momen perdana seluruh warga sekolah kembali berkumpul, saling menyapa, dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih.
Tradisi tahunan ini diawali dengan tausiyah halal bihalal yang disampaikan oleh Mochammad Marzuki Imron, kemudian dilanjutkan dengan prosesi saling bersalaman sebagai simbol saling memaafkan. Momen sakral tersebut dipandu oleh Chanif Ichsan di masjid sekolah.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para ustadz dan ustadzah berjajar rapi di depan shaf, membentuk barisan panjang dari Selatan hingga Utara. Siswa laki-laki memulai antrean dengan tertib, menyalami Yugo Triawanto, selaku kepala sekolah, kemudian berlanjut kepada para guru lainnya. Ustadz Chanif sesekali mengingatkan siswa untuk mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minkum”, yang dijawab dengan, “Taqobbal yaa kariim”. Ucapan sederhana itu mengalir, namun sarat makna—doa dan harapan agar amal ibadah diterima Allah SWT.
Setelah sesi di masjid, kehangatan berlanjut di masing-masing kelas. Di kelas 7 Inspire, suasana halal bihalal terasa akrab dan penuh keceriaan. Para siswa membawa kue kering untuk saling berbagi. Awalnya, mereka berencana menukar kue, namun karena tidak semua membawa, wali kelas Nur Izzatus Sofia berinisiatif mengumpulkan semua hidangan di satu meja panjang.
Hasilnya justru lebih bermakna. Siswa belajar berbagi, saling menghargai, dan menahan diri agar semua teman bisa merasakan setiap jenis kue. Mereka juga saling berkunjung ke kelas lain, mempererat silaturahmi lintas kelas.
Di tengah suasana santai itu, muncul momen menarik dari seorang siswa, Rayyan Azaka Al Farizqi, yang tetap menjalankan puasa Syawal. Saat melihat aneka hidangan, ia dengan polos bertanya, “Us, aku puasa… dibungkus boleh?” Temannya pun sempat menggoda, “mokel… mokel…”, namun Rayyan tetap teguh melanjutkan puasanya. Sikap sederhana itu justru menjadi teladan tentang komitmen dalam beribadah.
Berbeda lagi dengan suasana di kelas 7 Great. Wali kelas Khotimatul Khusnah mengawali kegiatan dengan saling bersalaman antarsiswa, dilanjutkan dengan menikmati hidangan sambil berbagi cerita pengalaman mudik. Keakraban semakin terasa saat mereka menerima kunjungan dari kelas lain seperti 7 Fair, bahkan bersama-sama bersilaturahmi ke kakak kelas di 8F dan 8G.
Sementara itu, di kelas 9 Hadramaut, halal bihalal berlangsung tak kalah seru. Dipimpin oleh Desy Suryani, kegiatan diawali dengan saling memaafkan, kemudian dilanjutkan dengan permainan unik bertajuk “Game THR Lebaran”. Dalam permainan ini, siswa memasukkan bola pingpong ke dalam gelas plastik yang berisi uang. Siapa yang berhasil, berhak mendapatkan isi di dalamnya.
Gelak tawa pun pecah, mencairkan suasana dan menambah kesan kebersamaan. Salah satu siswa, Darren Eshan Quitera Favian, berhasil meraih THR terbanyak sebesar Rp 52.000.
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, halal bihalal di Spemdalas tahun ini menghadirkan makna yang lebih dalam. Tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga menumbuhkan nilai empati, kebersamaan, dan keikhlasan di antara siswa.
Dari jabat tangan yang tulus hingga tawa kecil di ruang kelas, semuanya menjadi potret indah bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang membangun hati. Di Spemdalas, semangat itu terus hidup, menguatkan persaudaraan dan menanamkan akhlak mulia sejak dini. (*)
Post Views: 2







