Nelayan Gresik Buta Informasi Giant Sea Wall, Khawatir Dampak ke Tangkapan Ikan

- Jurnalis

Rabu, 5 Maret 2025 - 16:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabargresik.com – Rencana pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR membangun tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa, masih minim informasi di kalangan masyarakat Gresik, khususnya nelayan. Proyek yang bertujuan melindungi pesisir dari ancaman kenaikan air laut dan banjir rob ini, dikhawatirkan berdampak pada mata pencaharian nelayan.

Proyek GSW yang membentang dari Banten hingga Gresik ini, akan dibangun bertahap dengan anggaran fantastis, diperkirakan mencapai Rp 164 triliun untuk tahap awal.

“Kami belum tahu tentang rencana pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) dari Banten sampai Gresik,” kata Mu’alif, nelayan asal Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Rabu (5/3/2025).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mu’alif menyebut, belum ada sosialisasi dari pemerintah terkait proyek ini. Ia khawatir, pembangunan tanggul akan mempengaruhi populasi ikan dan habitat laut, sehingga mengurangi hasil tangkapan nelayan.

“Tentu dampaknya sangat signifikan bagi nelayan, seperti menebar jaring harus semakin ke tengah dan ombak semakin besar karena terbendung tanggul,” jelas Mu’alif.

Aktivis lingkungan dari Satuan Tugas Komite Nasional Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (Satgas Komnas PPLH) Kabupaten Gresik, Mukhammad Junaidi, menilai, proyek GSW harus mengutamakan kepentingan masyarakat setempat.

“Karena bisa jadi proyek Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di pantai utara Jawa tersebut justru menimbulkan gangguan terhadap akses nelayan ke area penangkapan ikan tradisional, termasuk di Kabupaten Gresik. Sehingga mata pencaharian mereka berkurang,” kata Junaidi.
Ia juga menyoroti potensi kerusakan ekosistem mangrove akibat pembangunan tanggul. Junaidi menekankan pentingnya studi dampak lingkungan yang komprehensif dan partisipasi masyarakat.

“Pentingnya mencari alternatif lain selain pembangunan Giant Sea Wall yang lebih ramah lingkungan, seperti penanaman pohon mangrove,” pungkasnya.

Penulis : Daniel Andayawan

Editor : Tiko

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow



sumber berita ini dari [kabargresik.com]

Berita Terkait

Serpihan Kisah Jalanan Becek Menuju Kemenangan
Hadirkan Profesional dari Freeport Indonesia, SMAMIO Bekali Siswannya Hadapi Peluang Karier 
PCM Driyorejo Gelar Kajian Pra-Ramadan, Inilah Empat Hal yang Harus Dipersiapkan agar Puasa Berkualitas dan Lebih Baik dari Sebelumnya 
Qabilah SD Muhammadiyah Benjeng Raih Juara 2 PBB Konfigurasi Putri di Kemahiran HW Kwarda Gresik
TPA Baitul Hidayah Sekarputih Balongpanggang Gelar Wisata Bersama
Membanggakan, Spemdalas Juara I di Ajang Muhammadiyah Development Training Center
Sinergitas, Refreshing dan Pemantapan Program, Tingkatkan Nilai Keberadaban Ber-Aisyiyah
Berebut Juara dalam Lomba Fashion Show, Beginilah Serunya Aksi Siswa KB Aisyiyah 31 Wringinanom 
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 00:03 WIB

Serpihan Kisah Jalanan Becek Menuju Kemenangan

Rabu, 21 Januari 2026 - 06:02 WIB

Hadirkan Profesional dari Freeport Indonesia, SMAMIO Bekali Siswannya Hadapi Peluang Karier 

Selasa, 20 Januari 2026 - 12:01 WIB

PCM Driyorejo Gelar Kajian Pra-Ramadan, Inilah Empat Hal yang Harus Dipersiapkan agar Puasa Berkualitas dan Lebih Baik dari Sebelumnya 

Senin, 19 Januari 2026 - 18:00 WIB

Qabilah SD Muhammadiyah Benjeng Raih Juara 2 PBB Konfigurasi Putri di Kemahiran HW Kwarda Gresik

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:57 WIB

TPA Baitul Hidayah Sekarputih Balongpanggang Gelar Wisata Bersama

Berita Terbaru

Gresik

Serpihan Kisah Jalanan Becek Menuju Kemenangan

Kamis, 22 Jan 2026 - 00:03 WIB