Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

banner 468x60

Tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriyah, bisa dimanfaatkan sebagai sarana merefleksi diri atas perjalanan roda kehidupan. Kita bisa memutar kembali memori atas apa saja yang terjadi pada masa silam –paling tidak dalam periodisasi setahun sebelumnya–, lalu menjadikannya sebagai sarana perbaikan kualitas diri dalam memasuki gerbang tahun baru.

Namun, momentum tahunan ini tak jarang tergerus oleh kuatnya mitos dibanding spirit hijrah yang mestinya jadi pijakan dalam perbaikan dan kualitas keimanan dan ikhtiar menapaki jalan kehidupan. Padahal, bagi umat Muslim seharusnya ini menjadi momen sakral untuk mengevaluasi total perjalanan hidup yang telah dilalui, menuju kehidupan yang lebih baik.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masih kerap ditemui –terutama dalam kultur Jawa– setiap 1 Muharram tiba, media sosial (medsos) atau ruang-ruang publik terjejali ungkapan: ‘jangan menikah di bulan Suro, jangan keluar malam pada 1 Suro nanti diculik Nyai Roro Kidul, harus ruwatan, mandi kembang 7 rupa’ dan sejenisnya.

Di sisi lain, suasana masjid-masjid atau musala-musala nampak berbeda dari hari-hari biasanya. Tempat ibadan umat Muslim itu menjadi lebih semarak: ada pengajian, prosesi doa akhir dan awal tahun Hijriyah, zikir bersama, khataman Al-Quran, santunan anak yatim, dan amalan-amalan baik lainnya.

Meluruskan Mitos Bulan Angker

Diakui atau tidak, dalam kultur atau budaya Jawa, sebagian masyarakat masih menganggap bulan Suro/Muharram identik dengan hal-hal mistis. Di antaranya, mitos bulan Suro merupakan  bulan sial. Karena itu, meraka menghindari hajatan, pindah rumah, menikah pada bulan ini. Bahkan, pada malam 1 Suro, tak jarang yang melakukan “tirakatan” khusus juga kirab pusaka.

Faktanya, dalam Islam tidak dikenal bulan sial. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada tiyarah/anggapan sial” (HR. Bukhari). Semua bulan itu baik, termasuk Muharram (Suro dalam kultur Jawa). Malah sebaliknya, Muharram disebut sebagai syahrullah, bulan Allah, bulan mulia.

Mandi kembang, sesajen, labuhan ke laut Selatan dan sejenisnya, itu akulturasi budaya, bukan ajaran Islam. Jika lelaku tersebut diniatkan untuk tolak bala, dikhawatirkan masuk dalam kubangan syirik. Sementara jika diniati melestarikan budaya tanpa keyakinan mistis, di kalangan ulama mash terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf).

Apa yang seharusnya dilakukan ketika memasuki Tahun Baru Hijriyah? Belum ditemukan ajaran yang secara khusus mengharuskan merayakan Tahun Baru Hijriyah dengan pesta pora sebagaimana lazim dilakukan saat peringaan Tahun Baru Masehi. Sebaliknya, direkomendasikan memasuki bulan Muharram sebagai pintu gerbang memasuki Tahun Baru Hijriyah, sejumlah amalan baik sangat dianjurkan. Di antaranya, muhasabah (introspeksi), evaluasi total dan niat hijrah. Evaluasi perlu dilakukan atas apa yang telah dilakukan sebelumnya sebagai ikhtiar perbaikan untuk masa yang akan datang.

Sementara ‘hijrah’ artinya berpindah. Dulu Nabi Muhammad harus berpindah dari Mekah ke Madinah sebagai jalan dakwah menyusul kondisi yang tidak kondusif di Mekah. Sekarang, yang bisa diambil sebagai pelajaran adalah: kita harus hijrah dari kebiasaan buruk ke jalan kebaikan, menjadikan hidup –dengan segala kompleksitasnya—menjadi lebih baik dari era sebelumnya.

Selain itu, dianjurjurkan melakukan puasa Asyura pada 10 Muharram. Ini amalan sunnah muakkadah. Pahalanya: menghapus dosa satu tahun lalu (HR Muslim).

Tak kalah pentingnya, perbanyaklah amal di bulan Muharram. Muharram termasuk 4 bulan haram, selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Di bulan-bulan ini pahala amal kebajikan dilipatgandakan. Karena itu, hindari semaksimal mungkin perbuatan maksiat dan dosa. Maka, sudah selayaknya memperbanyak istighfar, sedekah, membaca Al-Quran, menyantuni anak yatim, dan berbagai amalan Kebajikan lainnya, jadi jalan terbaik dalam menandai masuknya Tahun Baru 1448 H ini.

Kiranya, kita mesti bijak dan tidak perlu membenturkan produk adat/tradisi dengan ajaran  agama, yang justru berdampak pada terjadinya gesekan sosial dalam bermasyarakat. Toh, Wali Songo dulu dalam dakwahnya juga memanfaatkan produk budaya lokal (Jawa) sebagai sarana dakwah. Mereka tidak frontal memberangus kebiasaan lama yang telah mandarah daging, tetapi secara perlahan memasukkan ajaran-ajaran Islam lewat kebiasaan atau budaya Masyarakat.

Karena itu, manfaatkan 1 Muharram sebagai momentum hijrah batin. Jangan sampai sibuk takut dengan aura mistis Suro, sehingga lupa takut kepada Allah SWT. Jangan sibuk ruwatan diri, tapi lupa merawat hati dari sikap dan laku iri, dengki, malas ibadah, dan penyakit hati lainnya. Kita jadikan gerbang Tahun Baru 1448 H ini sebagai jalan baru menapaki kehidupan yang lebih baik dan berkualitas, baik dalam perspektif sosial maupun spiritual.  (*)


Post Views: 360



sumber berita ini dari [kabargresik.com]

Berita Terkait

Dapur Saji, Cara Baru Membaca Gresik dari Ingatan Warga
Pelepasan Siswa SD Al Islam: Siapkan Generasi Tangguh Beriman, Berilmu, dan Berakhlak Mulia
Orang Tua Siswi Asal Bojonegoro Sebut SMAMIO GKB Layak Jadi Inspirasi Sekolah di Indonesia
Kadis Pendidikan Gresik Resmikan Dalaz Magazine
Serunya Game di Tengah Padatnya Agenda Perkemahan SD Almadany
Spem Eight Gresik Kirim Siswa Terbaik ke Seleksi OSN 2026
Semarak HUT Bhayangkara Ke-80, Polresta Banyuwangi Gelar Kejuaraan Tenis Meja Antar Satker Dan Polsek Perebutkan Piala Kapolresta
SD Almadany Gresik Lepas Siswa, Ini Pesan Ketua Majelis Dikdasmen
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:17 WIB

Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam

Selasa, 16 Juni 2026 - 18:15 WIB

Dapur Saji, Cara Baru Membaca Gresik dari Ingatan Warga

Selasa, 16 Juni 2026 - 00:13 WIB

Pelepasan Siswa SD Al Islam: Siapkan Generasi Tangguh Beriman, Berilmu, dan Berakhlak Mulia

Senin, 15 Juni 2026 - 06:12 WIB

Orang Tua Siswi Asal Bojonegoro Sebut SMAMIO GKB Layak Jadi Inspirasi Sekolah di Indonesia

Minggu, 14 Juni 2026 - 12:10 WIB

Kadis Pendidikan Gresik Resmikan Dalaz Magazine

Berita Terbaru

Gresik

Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam

Rabu, 17 Jun 2026 - 12:17 WIB

Gresik

Dapur Saji, Cara Baru Membaca Gresik dari Ingatan Warga

Selasa, 16 Jun 2026 - 18:15 WIB

Gresik

Kadis Pendidikan Gresik Resmikan Dalaz Magazine

Minggu, 14 Jun 2026 - 12:10 WIB