Trump Harus Pilih : Yerussalem Jadi Gerbang Perdamaian Atau Perang

jatim.co kairo – Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada hari Rabu menegaskan bahwa Yerusalem akan menjadi pintu gerbang perdamaian  jika itu adalah ibukota Palestina.

“Tapi ini juga merupakan gerbang perang, ketidak amanan dan ketidak stabilan jika bukan (ibukota Palestina). (Presiden AS) Trump harus memilih,” Abbas menekankan dalam sebuah pidato di Universitas Al-Azhar di Kairo.

Abbas menekankan bahwa orang-orang Palestina tidak akan beralih ke tindakan brutal untuk mencapai tujuan mereka, namun mengambil cara diplomatik.

“Kami berpegang teguh pada perdamaian sebagai pilihan bagi rakyat kita, tapi bukan perdamaian dengan biaya apapun – yang didasarkan pada keputusan internasional yang menjamin pembentukan sebuah negara Palestina di perbatasan tahun 1967,” kata pemimpin Palestina tersebut.

Abbas bersikeras bahwa rakyat Palestina menuntut “hanya 22 persen dari sejarah Palestina” – dalam bentuk perbatasan tahun 1967 – dan meskipun Trump telah mengumumkan bahwa Yerusalem bersatu menjadi ibukota Israel.

“Kami tidak akan menerima ini, bukan dari Trump, bukan dari Amerika Serikat, dan bukan dari orang lain. Yerusalem adalah ibu kota kami,” katanya.

Trump bagi Abbas adalah Presiden yang tidak bisa dipercaya. “Trump mengubah posisi yang dipegang oleh administrasi lain (Amerika) Bagaimana kita bisa mempercayai administrasi semacam itu untuk menengahi antara kita dan orang-orang Israel? Kita tidak mempercayainya, dan kita tidak menerima Amerika Serikat sebagai mediator.”

Pemimpin Palestina tersebut mengulangi klaimnya bahwa ada sebuah konspirasi yang bermaksud membawa elemen asing ke Palestina. “Belum ada dan tidak akan ada orang Palestina, Arab atau Kristen yang akan menawar Yerusalem dan Palestina dan menyerahkan satu butir pasir dari tanah kami,” Abbas berkeras.

Dia juga mengklaim bahwa “Kami telah berada di sini selama 5.000 tahun, sejak zaman orang Kanaan yang membangun Yerusalem. Kami adalah orang Kanaan.”

Ahmed el-Tayeb, Sheikh Agung al-Azhar, yang juga berbicara pada acara yang sama, mengatakan bahwa umat Islam “tertarik pada perdamaian yang tidak mengenalinya, dan itu tidak menyakiti tanah air dan tempat-tempat suci.

”   Dia meminta dunia Muslim untuk kembali memperhatikan isu Palestina dan Yerusalem. “Keputusan presiden AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel harus dipenuhi dengan pemikiran Muslim dan Arab baru dan serius, yang menghormati sifat Arab Yerusalem dan sifat suci tempat-tempat suci bagi umat Islam dan Kristen,” katanya.

Dia juga mengusulkan tahun 2018 untuk menjadi tahun Yerusalem. (ynetnews/tik)