BanyuwangiBerita Daerah

Preman Ancam Tembak Warga Terkait Protes Truk Urukan

JATIM.CO.BANYUWANGI – Proyek pengurukan lahan seluas 7 hektar diperbatasan Kelurahan Karangrejo dan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi Kota, makin membuat kondusifitas masyarakat terganggu. Terlebih warga yang mengeluhkan kerusakan infrastuktur imbas dilalui truk pengangkut material justru mendapat ancaman dari preman pengaman proyek.

Menurut tokoh pemuda Kelurahan Kertosari, Heri Ateng, ancaman tersebut dilakukan oleh preman bernama Gatot, terhadap SG. Dia diancam akan ditembak jika terus mengkritisi pelaksanaan proyek ilegal tersebut.

“Warga ditemui Gatot, kepada SG dia mengatakan, kalau gitu caranya, nanti tembak-tembakan sama aku,” ucap Heri Ateng menirukan pernyataan SG, yang rumahnya hanya berjarak seratusan meter dari lokasi proyek, Minggu (15/1/2017).

Entah apa maksud ancaman tembak-tembakan yang dilontarkan, Heri Ateng mengaku tidak tahu. Begitu mendapat pengaduan dari SG, Ateng, sapaan akrab Heri Ateng, langsung menghubungi Lurah Kertosari, Joko Handoko SAP, serta Babinkamtibmas, Bripka Andi Yunus. Mereka pun langsung mendatangi lokasi pengurukan.

“Saya tidak tahu menahu dengan pelaksanaan proyek ini, pengelola juga tidak pernah koordinasi dengan kita,” ungkap Lurah.

Dengan adanya penolakan warga pada lalu lalang truk material yang sudah mengakibatkan kerusakan infrastuktur jalan, saluran pipa PDAM serta kelancaran lalu lintas, dia mengaku akan segera melaporkan ke Kecamatan. Sedang terkait adanya intimidasi terhadap warga, dia mengaku sangat kecewa dan akan menindak lanjuti dengan Babinkamtibmas dan Babinsa.

Langkah tersebut dinilai penting dilakukan karena jika dibiarkan, tindakan pelanggaran hukum si preman bisa memicu terganggunya stabilitas keamanan.

“”Sesuai KUHAP Pasal 1 angka 24 dan 25, saat terjadi tindak pidana, warga silahkan melakukan pengaduan atau laporan pada pihak Kepolisian,” cetus Babinkamtibmas Kelurahan Kertosari, Bripka Andi Yunus.

Sementara itu, Handoyo, warga RT 2, RW 2, Lingkungan Kramat, Kelurahan Kertosari, juga mengakui bahwa pelaksanaan proyek pengurukan lahan tersebut dilakukan tanpa adanya komunikasi dengan masyarakat.

“Kita warga tidak tahu, pak RT, pak RW juga tak ada yang tahu, disini kita hanya dapat imbas kerusakan jalan akibat dilewati truk material mereka,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek pengurukan lahan seluas 7 hektar tersebut dikerjakan oleh pemborong bernama Handoyo, warga Kelurahan Sobo, Banyuwangi. Sebenarnya, letak lahan berada di wilayah Kelurahan Karangrejo. Namun, untuk pengiriman material lewat Kelurahan Kertosari. Karena warga Karangrejo memang menolak jalan mereka dilintasi truk material, karena tak ingin jalan dilingkungan mereka rusak.

Sejak proyek berjalan beberapa hari lalu, warga sekitar lokasi kerap menerima arogansi para preman. Selain itu, infrastuktur jalan di Kelurahan Kertosari yang merupakan lintasan pengiriman material kini banyak yang rusak mengelupas. Padahal, aspal jalan baru selesai diperbaiki akhir tahun lalu.

Tak hanya itu, saluran PDAM yang tertanam dikanan kiri jalan juga terjadi kebocoran karena tak kuat menahan beban muatan truk. Begitu juga plengsengan irigasi yang baru dibangun oleh Pemerintah Daerah Banyuwangi, juga terancam ambrol terkena senggolan truk serta alat berat. Padahal saat ini, bangunan dari anggaran APBD tersebut masih dalam tahap perawatan. (jok/j1)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close