Polisi Amankan Limbah Medis Berbahaya

Jatim.co Surabaya, Sebuah mobil boks dihentikan polisi Satreskrim Polrestabes Surabaya. Setelah dilakukan pemeriksaan, mobil itu mengangkut limbah medis, dan setelah dilakukan pemeriksaan dokumen, manifest dokumen dengan jenis kendaraan serta surat jalan tidak sesuai.

Polisi pun menahan mobil bernopol L 9206 UA tersebut. Polisi menduga ada praktik salah kelola dalam hal pemusnahan limbah medis yang termasuk Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

“Kami hentikan mobil itu karena diduga tak ada kesesuaian antara manifest dengan kondisi yang ada,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga kepada wartawan, Selasa (9/5/2017).

Shinto menjelaskan, mobil itu milik PT Sukses Selamat Barokah. Dalam izinnya, perusahaan yang berlokasi di rungkut Surabaya itu merupakan perusahaan pengangkut (transporter) limbah medis. Mobil boks itu baru saja mengambil sebanyak 196 kg limbah medis dari sebuah rumah sakit swasta di Surabaya. Rencananya, limbah medis itu hendak dibawa ke tempat penimbunannya di Jalan Rungkut Mejoyo Selatan X, Surabaya.

Rupanya perusahaan itu tak hanya mengangkut saja, tetapi juga mengumpulkan atau menimbun limbah di sebuah tempat terbuka di areal perusahaan. Polisi pun menemukan bukti bahwa perusahaan itu ternyata tak mempunyai izin penimbunan limbah medis.

“Tempat penimbunan itu juga mendapat komplain dari warga. Karena ditumpuk di ruang terbuka, warga takut tercemari dan terinfeksi limbah medis itu,” kata Shinto.

Shinto menegaskan bahwa limbah medis seharusnya dimusnahkan. Untuk keperluan itu, pihak rumah sakit bisa memusnahkannya menggunakan incinerator atau menunjuk pihak ketiga untuk melakukannya. Dan untuk keperluan itu, pihak rumah sakit seharusnya juga harus bisa mengontrol, mengevaluasi, bahkan memverifikasi perusahaan yang mengelola limbahnya.

Dalam kasus ini Shinto mengaku akan lebih mendalaminya. Pejabat dengan dua melati dipundaknya ini belum tahu apakah limbah medis itu dibuang begitu saja atau diserahkan ke pihak pengelola. selanjutnya, Shinto juga belum tahu apakah limbah medis itu hanya didapat dari satu rumah sakit saja atau lebih dari satu rumah sakit.

Pasal yang dipersangkakan dalam kasus ini adalah pasal 102 dan atau pasal 103 UU RI 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

“Kami juga belum menetapkan tersangka, akan ada gelar perkara untuk itu,: tandas Shinto.

Sementara itu, Kasi Pengawasan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Jatim Ainul Huri mengatakan bahwa limbah medis yang bisa berupa B3 memang harus dikelola dengan baik. Kenapa harus dikelola? Karena sifatnya yang bisa menginfeksi dan beracun.

“Perusahaan yang mengelolanya harus mendapat izin dari Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Ainul.

Idealnya, kata Ainul, pengelolaan limbah medis bisa dilakukan dengan cara memusnahkannya dengan cara dibakar dengan suhu lebih dari 1.000 derajat celcius melalui incinerator.

Ainul menambahkan, untuk pengelolaan limbah medis, semuanya harus mempunyai izin dan dokumen yang sah. Perusahaan pengangkut harus mempunyai izin dari Dirjen Perhubungan. Pengumpul limbah pun juga harus mendapat izin dari Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, bisa membahayakan,” tandas Ainul.(joe/j1)