BanyuwangiBerita Daerah

OJK Jember Minta Korban Transaksi Ilegal Bank Bagong Segera Melapor

JATIM.CO.BANYUWANGI – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jember, Aidil Chaidir, minta korban transaksi ilegal Bank Bagong, Purwoharjo, Banyuwangi, segera mengirimkan laporan.

“Segera buat surat pengaduan ke OJK, ceritakan kronologisnya,” katanya via selular.

Dijelaskan, untuk melapor atau mengadu, korban bisa melalui dua cara. Pertama, dengan berkirim surat ke alamat OJK Jember di Jalan Hayam Wuruk, No 41 Jember. Dalam surat, korban diminta menjelaskan kronologis perkara serta mencantumkan foto kopi bukti.

“Atau jika kurang puas, bisa datang langsung ke kantor kami, selanjutnya kami akan memanggil pihak Bank Bagong Purwoharjo untuk klarifikasi,” cetusnya.

Seperti diketahui, Bank Bagong Purwoharjo telah melakukan transaksi ilegal dalam kredit pinjaman dengan korban, Asnapun, warga Desa Grogol, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Sertifikat tanah milik korban yang amsih atas nama pemilik tanah pertama, Ali Mansyur, disita sepihak karena disebut sebagai agunan pinjaman sebesar Rp 60 juta tersebut. Padahal, korban maupun si Ali Mansyur, tidak tahu menahu dan tidak pernah mengajukan pinjaman ke Bank Bagong Purwoharjo.

Sebelumnya, dalam kejadian ini, Komisaris Bank Bagong Purwoharjo, Jon Adi Batam, mengakui bahwa kantornya telah melakukan transaksi ilegal. Yakni dengan mencairkan pengajuan kredit dengan jaminan sertifikat tanah tanpa sepengetahuan pemilik.

Namun sayangnya, meski tahu bahwa perbuatan tersebut melanggar hukum, Bank Bagong Purwoharjo, tetap nekad menyita sertifikat tanah tersebut. Dengan dalih, transaksi ilegal tersebut adalah ulah mantan karyawannya, Suryanto, yang kini berdomisili di Blitar.

Komisaris Bank Bagong Purwoharjo, juga mengakui bahwa mantan Accounting Officer mereka tersebut telah melakukan beberapa transaksi ilegal lain. Dan seperti hal nya sertifikat tanah milik Asnapun, meski si pemilik tidak tahu menahu dan tidak pernah mengajukan pinjaman kredit, semuanya tetap disita oleh Bank Bagong.

Sekedar diketahui, aksi penyitaan sepihak atas sertifikat tanah ini bermula saat Asnapun, meminta sertifikat balik nama atas tanah yang dibelinya dari tetangganya, Ali Mansyur, dengan luas sekitar 5000 meter persegi. Karena sesuai kesepakatan sebelumnya, si penjual, Ali Mansyur, bersedia menguruskan proses pergantian atas nama hak milik tersebut.

Dalam proses pengurusan balik nama, Ali Mansyur dibantu Afandik, tetangganya. Dan oleh Afandik, diam-diam sertifikat digunakan untuk meminjam uang ke KSP (Koperasi Simpan Pinjam) sebesar Rp 2,5 juta.

Dari situ, ketika ditelusuri KSP tempat meminjam ternyata saat ini sudah tutup. Dan keterangan para pengurus, sertifikat tanah milik Asnapun yang masih atas nama Ali Mansyur, berada di Bank Bagong Purwoharjo, sebagai jaminan pinjaman sebesar Rp 60 juta. Anehnya, walau tanpa sepengetahuan pemilik sah, Bank Bagong Purwoharjo, dengan mudah bisa melakukan pencairan.

“Sebelumnya kami juga pernah memanggil lembaga keuangan yang melakukan kasus yang sama. Sesuai aturan, untuk agunan sertifikat tanah, harus sepengetahuan pemilik atau jika diwakilkan harus dengan surat kuasa,” pungkas Aidil Chaidir. (Jok/j1)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close