Berita DaerahNganjuk

Ini Kesaksian Tukiyem Saat Panglima Besar Sudirman Bergerilya Di Nganjuk

Jatim.co Nganjuk -Tidak banyak yang mengetahui selain di Desa Bajulan kecamatan Loceret Nganjuk Jawa timur sebagai tempat Persinggahan Sang pejuang Besar Jendral Sudirman terdapat sejumlah tempat diyakini menjadi Saksi perang Gerilya yang dipimpin Oleh Sang Panglima Besar.

Adalah Tukiyem 80 Tahun, Wanita asal Dusun Salam judeg Desa Blongko kecamatan Ngetos adalah salah seorang saksi hidup yang rumahnya pernah disinggahi oleh Jendral besar Pertama di Indonesia itu.

Dalam ingatan Tukiyem, sekitar Tahun 1948 terjadinya perang gerilya membuat Sudirman saat itu harus selalu berpindah tempat untuk mengecoh lawan. Ketika Belanda melakukan serangan di persinggahanya di Bajulan  kala yang  memaksa pasukan untuk berpindah tempat dan menginap dirumah tukiyem

Masih menurut Tukiyem, sekitar pukul  15.00wib kala itu  Sudirman dengan di tandu oleh pasukan singgah dirumahnya  diantar oleh Radi seorang perangkat Desa yang merupakan paman Tukiyem sendiri. Wanita berusia lanjut yang masih cukup mampu mengingat peristwa puluhan Tahun itu berujar, Saat Usianya masih tujuh Tahun ia  tinggal bersama Ibunya Rakiyem, “Kulo tasih iling pas dugi teng griyo enten suwanten bledosan dateng Ngandap mriko( Saya masihbingatvketika Sudirman datang, dibawah sedang terjadi Ledakan ) ” ujar Wanita uzur dengan rambur berwarna putih merata.

Demi keamanan pasukan dirinya diwanti wanti oleh Ibunya agar merahasiakan keberadaan Tamu besar tersebut dan memanggil Sudirman dengan istilah Pakde ( paman). Istilah ini dipakai agar persembunyispan sudirman tidak di Endus oleh belanda. Sehingga warga sekitar pun tak banyak yang mengetahui bahwa di desa mereka sempat menjadi tempat singgah Jendral besar yang di segani Kaum Penjajah Belanda.

Dalam benak Tukiyem kenangan lain yanng berkesan adalah saat Dipan miliknya yang terletak diruang Tengah rumah  tempat Ia biasa istirahat saat itu digunakan untuk tidur oleh Sudirman meski hanya semalam dan tidur seadanaya, selebihnya  tak bnayak  informsi lain  yang ia dapat,” Namung sewengi nginep terus mlampah maleh pas srengenge mletek ( Hanya  semalam menginap dan pergi lagi saat matahari terbit” Imbuh Tukiyem.

Kenaangan lain yang ia ingt adalah saat ia diminta Ibunya untuk memasak dan disajikan kepada Pasukan Sudirman,  kala itu yang paling mungkin dan mudah didapat adalah memasak Daun Ubi kayu yang kala itu dikenal  beracun ia dan Sang Ibu rakiyem menyajikan makanan dengan Ihlas, istilah beracun itu bukan berati daun yang mereka sajikan itu mengandung  racun” Kulo kaleh biyung dikengken masak Godhong Ron racun ning nggih mboten mendemi ( Ibu meminta saya memasak daun singkong racun tapi tidak mematikan)” ujar tukiyem sambil pandangan menerawang mengingt, sesuatu.

Selain sederet kenangan yang melekat hingga sekarang, Rupanya galian sedalam satu meter dibelkang rumahnya juga menjadi sesuatu yang dirahasiakan dan tidak ada satupun yang mengetahui, “mboten enten sing ngertos mas” KenangTukiyem yang  belakangan diketahui Galian tersebut berisi sejumlah Dokumen penting yang dibawa Sudirman dari Desa Bajulan.

Kenangan terahir yang terlintas adalah,Saat Sudirman berpamitan hendak melanjutkan perjalanan Gerilyanya dan  berpesan,” Pesan Pak dhe ojo rabi karo tentara, mergo  di tinggal lungo nek  usum perang, rabio karo tani sing iso mulyakne wong luwe ( Pesan Paman, jgan menikah dengan Tentara jika musim perang di tinggal pergi, nikahlah dengan petani yang bisa mensejahterakn orang lapar)” Pungkas Tukiyem.

Sederet kesaksian Tukiyem tentang sejarah Jendral besar tersebut diperkuat oleh Aris TrioSetiawan ( 37) Akitifis penelusuran jejak sejarah Pahlawan di Nganjuk menuturkan, menurutnya berdasarkan informasi dari warga sekitar kedatangan sejumlah serdadu belannda sempat merangsek ke Dusun tersebut  mencari sosok Sudirman, Hingga sempat membuat warga Dusun sekitar ketakutan. Bahkan menurutnya salah seoarang saksi yang masih Hidup mengaku pernah melihat warga di Todong senjata saat memangkas rambut Sang jendral untuk merubahvpenampilan” Mbah Yatirah saksinya yang pernah melihat langsung warga yang ditodong senjata belanda saat mencukur pak Dirman” Ujar Aris keoada Jatim.co menirukan keterangan Yatirah wanita berusia 105 Tahun asal Dusun Magersari Desa Salam Judeg kecamatan Ngetos Nganjuk Jawa Timur.( Din/j 1)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close