Berita DaerahNganjukTuban

Jatim : Harga Cabai Tembus 48 Ribu Per Kilo

Jatim.co – Harga komoditas cabai di sejumlah pasar tradisional di Jawa timur  kini merangkak naik akibat perubahan cuaca.

 

Cuaca yang kini sering hujan ini juga membuat penjual cabai harus mengurangi pasokan cabai dari distributor atau pengepul.

 

Menurut Robi, salah satu cabai di Pasar Baru Tuban mengatakan naiknya harga cabai selain akibat hujan yang masih turun juga disebabkan hama yang menyerang tumbuhan cabai sehingga petani harus menaikan harga agar tidak merugi.

 

“Naik akibat hujan dan penyakit patek di tumbuhan cabai”, ujar Robi Kepada Jatim.co, Selasa (25/10/2016).

 

Ia menyebutkan harga cabai rawit kini naik menjadi 34.000/Kg dari 28.000/Kg, cabai biasa harganya 30.000/Kg dari 11.000/Kg dan cabai keriting harganya 48.000/Kg dari 45.000/Kg.

 

Sementera itu, pantauan di Kabupaten Nganjuk, berdasarkan wawancara dengan Suwarti (55) pemilik warung makan di sekitar alun alun Nganjuk ini mengaku, sejak dua minggu belakangan harga cabai melonjak hingga mencapai Rp.48 ribu.” Cabai besar 48ribu, yang kecil seperempatnya saja Rp 11 ribu.” Ujarnya.

 

Sementara pantauan di lapangan, di Pasar Wage Nganjuk, sejumlah pedagang sayur mengaku harga cabai mengalami perubahan harga yang sangat signifikan, bahkan menurut Parno (46) Harga cabai sulit diprediksi, menurutnya hamlir setiap bulan harganya berubah ,” Hari ini rata-rata di atas Rp. 40ribu, bulan kemarin hanya Rp.20an ungkap Parno.

 

Senada dengan Parno, Pedangang asal Desa mungkung Kecamatan Rejoso mengaku sulit mencari barang terutama cabai merah, menurutnya harga cabai dibulan sebelumnya hanya berkisar Rp.18ribu untuk  cabai rawit, ” Sekarang ini cabe kecil 38ribu dan 50ribu yang bagus” Ujar Siti Alfiah kepada Jatim.co

 

 

Penyebab Fluktuasi harga cabai ini di perkuat oleh pernyataan Kasi Holtikuktura Menurutnya, Kendala iklim saat ini menjadi pemicu utama,  Dimana petani seharusnya melakukan penanaman pada bulan Agustus _September. Tetapi imbuh Dia, berhubung curah hujan cukup tinggi  maka para petani memilih masa tanamnya diundur,” Daripada gagal akibat cuaca mereka memilih tanamnya di undur” Ujar Zakin saat dihubungi Via Telpon Selasa( 25/10/2016)

 

Zakin menambhakan, Karena masa panen terbatas sehingga mempengaruhi produktifitas. Sementara permintaan pasar cukup tinggi otomatis hal ini yang mempengaruhi harga pasar. Fenomena ini yang dihindari oleh petani di Nganjuk sebagaimana yang dialami sejumlah petani di kecmatan Patianrowo dan Ngronggot,”  Tanaman mereka tenggalam  sehingga  gagal panen” Pungkas Zakin salah satu Pejabat Penting di Dinas Pertanian Nganjuk.( Rochim/tuban/Din/Nganjuk/j1)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close