BanyuwangiBerita Daerah

Alasan Tak Jelas Mutasi Pegawai PA Banyuwangi Tuai Kontroversi

Jatim.co Banyuwangi – Mutasi pegawai dilingkungan Pengadilan Agama (PA) Banyuwangi, menuai Protes. Penyebabnya, sejumlah nama yang akan dipindah tugaskan justru dari kalangan pegawai yang mendekati masa pensiun .

 

Ironisnya lagi, sejumlah nama yang akan dipindah tugaskan justru dari kalangan pegawai yang aktif dan memiliki etos kerja tinggi, meski terdeteksi memiliki penyakit jantung.

 

Protes tersebut disampaikan Eko Setio Pribadi SH, suami dari Panitera Pengganti PA Banyuwangi, Alief Theria. Warga Jalan Lemuru, No 43, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi, ini keberatan karena istrinya tidak pernah melakukan pelanggaran kedinasan. Selain itu istrinya juga menderita sakit jantung. Namun meski demikian dia mengaku bahwa sang istri,  tergolong pekerja keras dan kritis sesuai program Pemerintah dalam mewujudkan birokrasi yang bersih dan akuntabel.

 

“Istri saya itu juga sudah umur 53 tahun dan memiliki penyakit jantung, harapan kami, Pemerintah bisa mengambil kebijakan untuk menganulir mutasi, apalagi dalam pekerjaan istri saya itu tergolong aktif dan tidak pernah mendapat teguran,” katanya, Selasa (18/10/2016).

 

Tapi tiba – tiba, lanjut Eko, tanpa ada penyampaian di awal, Alief, diberi kabar oleh Sekretaris PA Banyuwangi, Khozin, bahwa akan dimutasi ke Lumajang. Surat mutasi memang belum diberikan, namun wanita yang sudah berdinas selama 4 tahun tersebut sudah tidak terdaftar dalam Sistem Kepegawaian (Simpeg) PA setempat.

 

“Sebagai bentuk keberatan mutasi, kini istri saya bersama Sumiati (Panitera Pengganti lain) berangkat ke Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Surabaya. Rekam medis penyakit jantung istri saya juga dibawa, semoga akan ada kebijakan,” ucap Eko.

 

Ditambahkan, untuk Sumiati, keberatan dimutasi ke Lumajang, karena memiliki anak penderita autis.

 

Humas PA Banyuwangi, Drs Amroni MH, membenarkan akan adanya mutasi ditempat tugasnya. Meski SK mutasi belum diturunkan, namun dari nama yang hilang dari Simpeg, sedikitnya 5 pegawai yang akan dipindah tugaskan. Ada yang dimutasi ke Jakarta, Lumajang dan Surabaya.

 

“Mutasi ini atas intruksi dari pusat, namun tetap bisa dianulir jika keberatan si pegawai diterima, misal karena sakit, tentu saja dengan menyertakan surat keterangan dari dokter,” jelas warga Lingkungan Stendo, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi ini.

 

Pria yang sudah menjadi Hakim PA sejak tahun 1999 ini menyebut bahwa mutasi diinstansi Pemerintah adalah hal biasa. Bahkan, dia menyebut, selama tahun 2016, sudah ada 600 Hakim PA se Indonesia yang telah dimutasi.

 

“Jadi walaupun diinternal PA Banyuwangi setiap bulan dilakukan rapat evaluasi kinerja, itu tidak dilaporkan ke pusat, hanya untuk pembenahan internal saja. Karena itu, kalau ada mutasi kita malah tidak tahu, karena urusan pusat,” pungkasnya.

 

Kondisi tersebut sangat disayangkan. Karena  adanya praktek mutasi pegawai tanpa koordinasi ke bawah. Tentu saja, itu bisa berimbas besar pada pelayanan kepada masyarakat. (Jop/j2)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close