Berita DaerahNganjuk

Curah Hujan Tinggi Petani Tembakau Terancam Gagal Panel, Diperta Tutup Mata

Jatim.co NGANJUK – Akibat curah hujan tinggi puluhan hektar tanaman tembakau di Nganjuk terancam merugi ratusan juta rupiah.

Setidaknya petani Tembakau di tiga kecamatan terancam  gagal panen setelah musim sebelumnya juga  mengalami hal yang sama.sehingga dipastikan nyaris sepanjang tahun ini Petani daun bernekotin tinggi ini mengalami kegagalan beruntun.

Menurut Soemitro Samadikun ,  tanaman tembakau bisa diibaratkan sudah mendarah daging sejak leluhur mereka. Menurutnya bertani tembakau merupakan tulang punggung utama bagi pendapatan sebagian masyarakat Nganjuk.

Namun nahasnya masih dikatakan Sumitro, ketika petani dihadapkan persoalan gagal panen seperti ini, peran serta pemerintah daerah setempat untuk membantu petani hampir tidak ada. Perhatian pemerintah terhadap petani tembakau sangat berbeda perlakuanya dengan petani tanaman pangan lainya.” Yang paling mencolok, jika petani tanaman pangan mengalami gagal panen maka pemerintah akan memberikan asuransi terhadap petani.Sebaliknya kalau petani tembakau gagal panen pemerintah tidak mau tahu,” imbuh Sumitro kepada Jatim.co minggu (10/10/2016).

Ditanya soal harapan Sumitro menambahkan ingin agar pemerintah daerah setempat melalui dinas pertanian memikirkan nasib petani tembakau . Karena bagaimanapun itu adalah bagian tugas dari dinas terkait untuk memberikan pembinaan dan solosi bagaimana petani tidak terpuruk.” Dinas pertanian memiliki petugas penuluh lapang semestinya dilibatkan langsung. karena PPL adalah ujung tombak dinas,” pungkasnya.

Termasuk lebih jauh dikatakan dia, bantuan pemerintah kepada petani tanaman pangan berupa sarana alat produksi ( Saprodi ) termasuk benih dan pupuk terus digulirkan sampai saat ini. Alasan klasik karena target swasembada pangan harus bisa  tercapai.” Pemerintah sampai saat ini hanya memandang sebelah mata dengan peran serta petani tembakau. Padahal tembakau juga bisa menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit termasuk membantu devisa pemerintah melalui pita cukai rokok,” tandas mantan Anggota DPRD Nganjuk.

Karena struktur lahan dikawasan pusat tanaman tembakau di tiga kecamatan tersebut memiliki unsur hara yang berbeda dengan tempat lain yaitu Lengkong, Ngluyu dan Jatikalen tergolong memiliki kadar air rendah, maka tidak akan mungkin para petani memilih tanaman lain selain tembakau.

Dikatakan sejumlah petani yang berhasil ditemui Jatim.com, pernah mencoba menanam tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai ternyata hasilnya tidak bisa maksimal.

Melihat kenyataan itu, maka tidak ada pilihan lain hanya tanaman tembakau saja yang bisa diandalkan para petani yang mayoritas hidup di kawasan tepi hutan ( margesaren ). ” Petani disini sejak dulu sampai sekarang hanya menggandalkan tanaman tembakau saja. Tradisi Itu adalah satu satunya warisan turun temurun yang tidak bisa dirubah,” kata Pria  as Desa Sumberkepuh Kecamatan Lengkong.

Masih dikatakan Sumitro, pada musibah gagal panen musim tanam kali ini kerugian petani untuk setiap hektarnya bisa mencapi Rp 25 juta. Itu diketahui dari kalkulasi harga daun tembakau basah dan harga daun rajangan kering mengalami kenaikan cukup pesat mencapi Rp 40 ribu perkilogramnya,

” Karena perhektarnya dalam kondisi normal selama masa panen 3 bulan bisa menghasilkan tidak kurang dari 18 ton daun tembakau. Hal ini yang membuat petani shok ketika tidak berhasil memanen,” akunya. (Muh.Roissudin/ j1)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close