Berita DaerahNganjuk

Longsor Jembatan Bareng Terputus

Jatim.co Nganjuk, Musim Hujan tiba, Nganjuk kembali dilanda bencana, setelah sebelumnya  sekitar 15Km arah Tenggara yakni Dusun Ponggoh Desa Bajulan Loceret Nganjuk landa Puting beliung.

 

Kali ini Desa Bareng Kecamatan Sawahan dilanda Longsor parah yang berakibat putusnya jembatan utama akses menuju Desa yang merupakan Wilayah Kecamatan Sawahan, Nganjuk.

 

Kejadian bermula pada hari Jum’at Sore (30/9) sekitar pukul 16.00Wib. terjadi tanah longsor di tebing timur sungai pemisah antara wilayah Desa Bareng dan Desa Sawahan.

Rupanya tanah longsor dengan kedalaman sekitar 10 meter dan lebar 5 meter itu juga menerabas pondasi bangunan jembatan bailley yang merupakan jembatan darurat.

 

Jembatan darurat ini di bangun sementara karena jembatan sebelumnya  ambruk diterjang banjir bandang  pada akhir Januari Tahun 2015 lalu.

 

Karena Jembatan sementara tersebut merupakan satu-satunya akses yang bisa dilalui ratusan warga, maka jajaran aparat setempat dibantu Tim SAR BPBD Nganjuk berinisiatif menutup akses jalan. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan Tim Gabungan  melarang Kendaran bermotor melintas Jalan utama menuju Desa Bareng kecamatan Sawahan ” kondisi jembatan sangat menghawatirkan, posisinya menggantung dan bisa roboh sewaktu-waktu,” ujar Kepala BPBD Nganjuk Soekonjono, dihubungi Jumat malam sekitar pukul 21.00.

 

Berdasarkan Informasi yang di himpun Jatim.co, Longsor terjadi bukan karena turun hujan, karena saat itu hanya terjadi gerimis dan tidak adanya luapan Bah air dari hulu. Melainkan adanya aktifitas Proyek fisik dengan muatan berat yang melintasi bahu jembatan. Hal ini diduga menjadi pemicu longsornya Jembatan yang terletak di sebelah timur pasar Sawahan, Nganjuk.

 

Belakangan diketahui,  proyek pembangunan Jembatan baru Desa Bareng ini menggunakan Dana APBD Tahun 2016

Senilai 3 Milyar. Proyek yang diduga proses awalnya tidak kordinasi  dengan pihak terkait ini di klaim warga sebagai tindakan yang lalai.

Sehingga proyek yang dikerjakan oleh rekanan Dinas PU Bina Marga Kabupaten Nganjuk di anggap yang paling bertanggung jawab,”Proyek ini menggunakan mesin berat berupa bego, sehingga pergerakan dibawah tebing juga dapat memicu longsor “ujar salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya

(Din/j1)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close