Bisnis

Ini Pendapat Analis : Rupiah (Senin) Melemah Akibat Aktifitas Gunung Agung

jatim.co Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank, Senin sore, bergerak melemah tipis sebesar tiga poin menjadi Rp13.507 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.504 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini dimungkinkan karena pengaruh adanya rumor berkurangnya kunjungan wisata Ke Bali akibat aktifitas Vulkanik  gunung Agung.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada  mengatakan  bahwa pelemahan mata uang rupiah tidak terlepas dari adanya rumor berkurangnya kunjungan wisata ke Indonesia seiring penutupan sementara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali seiring peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung. Mengutip dari antaranews.com (senin, 27/11)

“Meski diyakini rumor itu tidak sepenuhnya berimbas pada rupiah, namun situasi itu dimanfaatkan sebagian spekulan untuk melepas posisi pada aset berdenominasi rupiah,” katanya.

Data  kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin (27/11) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah ke posisi Rp13.511 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.506 per dolar AS.

Sementara itu Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini tampaknya lebih masuk  di zona merah. Pasalnya, indeks saham ditutup melemah 0,04 persen atau 2,55 poin di 6.064,59 pada akhir perdagangan awal pekan ini.

Sebelumnya, IHSG juga dibuka melemah 0,12 persen di 6.059,71. Hanya saja, sekitar pukul 10.00 WIB, mulai ada sinyal positif dengan penguatan tipis 0,01 persen atau 0,41 poin ke posisi 6.067.

Sayangnya, jelang akhir perdagangan sesi I, indeks saham menurun lagi. Hal itu membuat IHSG harus rela ditutup melemah 0,18 persen di 6.057,09 pada perdagangan sesi pertama.

Memasuki perdagangan sesi II, IHSG masih bertengger di zona merah. Bahkan jelang penutupan, IHSG semakin terperosok dengan penurunan 0,45 persen atau 27,59 poin ke 6.039 pada pukul 15.30 WIB.

Mengutip dari republika.co.id ,  ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail memperkirakan, IHSG berpeluang menguat pada perdagangan hari ini. Hal itu menyusul, menguatnya bursa Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat lalu.

“Data PMI composite berada di bawah ekspektasi, namun optimisme terhadap peningkatan penjualan ritel menjelang Natal dan Tahun Baru menguat. Maka saham-saham ritel mengalami peningkatan,” ujar Ahmad, Senin (27/11).

Menurut Ahmad, investor kini sedang menunggu pertemuan OPEC pada Kamis mendatang. Investor berharap, OPEC akan memperpanjang batas akhir pembatasan produksi minyak dari Maret 2018 menjadi akhir 2018. (ant/rci/tik)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close